Dirubah Oleh 'Laut Bercerita'

Sumber Gambar : Ide Bacaan: Buku Laut Bercerita, Kisahkan Mereka yang Hilang Tanpa Kejelasan di Masa Lalu - Sukabumi Update

    "Saya sejak kecil sudah senang untuk mengikuti perkembangann politik di Indonesia. Bahkan pada saat Pilpres tahun 2009 yang saya baru berusia 11 tahun sudah menonton debat bersama bapak. Mulai saat itu saya sering membaca berita politik dari surat kabar yang di beli bapak setiap harinya."

    Ketika Joko Widodo maju sebagai calon presiden periode pertama saya termasuk orang yang mengagumi ke’wong cilik’annya. Meskipun pada saat itu saya belum punya hak pilih. seiring berjalannya pemerintahan Jokowi periode pertama pandangan terhadap sosoknya juga berubah. Hal tersebut tidak terlepas dari keluarga yang memang sejak awal tidak begitu suka dengan partai pengusung Jokowi. Tidak ada irisan yang sama antara keluarga dengan pandangan politik PDIP. Ditambah kepala daerah di tempat kami tinggal, baik tingkat kabupaten maupun provinsi, selalu di kuasai banteng. Sudah sewajarnya daerah kami disebut kandang banteng. 


    Alasan-alasan di atas yang menjadikan pilpres pertama yang saya ikuti pada tahun 2019 memilih Prabowo. Sesederhana yang bukan Jokowi dan PDIP. Prabowo saya pilih dengan keyakinan bahwa Indonesia dengan masyarakat yang beragam masih cocoknya di pimpin oleh orang yang berlatar belakang militer. Hal tersebut melihat dari keberhasilan sepuluh tahun kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono.


    Kalau mengingat saat itu saya merasa alasan memilih Prabowo terlalu naif. Tidak ada dalam pikiran saya untuk mencari lebih jauh bagaimana latar belakang seorang yang  memimpin negeri ini.


    Covid 19 merubah minat baca yang selama ini kurang. Sebagian besar bacaan saya masih novel fiksi. Kebiasaan itu tetap berlanjut sampai setelah pandemi. Saya akhirnya membaca novel karangan Leila S Cudhori yang berjudu ‘LAUT BERCERITA’. Sebuah novel berlatar tahun 1998 yang menceritakan tentang sekelompok mahasiswa yang menentang rezim Soeharto dan akhirnya mereka harus hilang entah kemana.

 

    Laut Bercerita menyadarkan saya bahwa ada sebuah kejahatan HAM yang sampai saat ini belum ada penyelesainnya. Tokoh-tokoh yang seharusnya dimintai pertangunggjawaban masih dengan nyaman duduk di kursi empuk jabatan. Kisah di novel yang menceritakan bagaimana sedihnya kehilangan seorang ibu terhadap anaknya membuat saya sadar bahwa Aksi Kamisan itu maknya tinggi. Bukan hanya sekedar seorang ibu yang berlarut dalam kesedihan kehilangan anaknya. Tetapi sebuah perjuangan bagaimana menjelaskan nasib anaknya yang sampai saat ini tidak ada kejalasan. Lebih dari itu, Laut Bercerita membuat saya tidak bisa membayangkan jika yang ada di posisi kehilangan adalah saya.


    Laut Bercerita menyadarkan bahwa ada seorang yang perlu di adili sebelum ia mendapatkan jabatan publik. Entah itu perintah atau kehendak sendiri yang jelas tangganya berdaraha atas apa yang terjadi di masa lampau. Selama itu belum di adili bagaimana duaratus juta jiwa lebih kehidupan diserahkan kepadanya. Apa jaminan bahwa tragedi kemanusiaan tidak akan terulang. Sejak saat itu janji pada diri sendiri adalah tidak akan memilih orang yang bermasalah dengan tragedi HAM.


 Ini bukan tentang isu lima tahuanan, tetapi ini tentang seorang yang harus mempertangunggjawabkan apa yang tangan berdarahnya pernah lakukan.  


Komentar