
Sumber : assorted-color clothes lot hanging on wooden wall rack photo – Free Clothes Image on Unsplash
Beberapa waktu yang lalu ketika sedang
membuka akun twitter, saya menemukan sebuah tulisan yang mengutip dari
salah sati media besar di Indonesia. Saya cukup tertarik dengan isi tulisan
diartikel tersebut, tidak lain karena (lagi-lagi) pembahasannya mengaitkan cara
berpakaian umat islam dengan tingkat keimanan seseorang. Beberapa hal yang
dapat saya simpulkan dari artikel tersebut adalah tingkat keimanan seseorang
tidak bisa dilihat dari pakaiannya dan tidak ada kewajiban untuk berpaikaian
seperti yang sudah umum dilakukan umat islam sekarang (Jilbab), karena itu
hanyalah produk budaya Bangsa Arab.
Sejatinya pembahasan macam ini bukan hal yang baru, dalam jangka
waktu tertentu akan selalu ada saja yang membahasnya. Ketika negara lain
berlomba untuk siapa duluan yang bisa hidup di Mars, kita masih disibukkan
dengan hal remeh temeh seperti ini.
Tapi baiklah, saya tergerak untuk mengungkapkan apa pandangan saya
terhadap opini diatas. Sebelum masuk kedalam opini saya, kita harus sama-sama
menyepakati, bahwa suka atau tidak suka akan muncul dalil dalam pandangan saya.
Hal ini akan cukup berbeda dengan artikel sebelumnya, karena tidak menyebutkan
satupun kutipan dari ayat Al Qur’an.
Ketika kita menanyakan alasan seseorang yang beragama (dalam hal
ini agama Islam) kenapa melakukan suatu perkara, atau meninggalkan perkara yang
lain, sudah pasti alasannya adalah karena perintah Tuhan seperti itu. Berpakain
sama halnya dengan kita mengormati tetangga kita atau berdoa sebelum makan,
sama-sama diatur oleh sumber agama islam atau Al Qur’an. Seluruh segmen kehidupan sudah diatur dalam
Islam, termasuk juga dengan cara berpakaian.
$pkr'¯»t ÓÉ<¨Z9$# @è% y7Å_ºurøX{ y7Ï?$uZt/ur Ïä!$|¡ÎSur tûüÏZÏB÷sßJø9$# úüÏRôã £`Íkön=tã `ÏB £`ÎgÎ6Î6»n=y_ 4
y7Ï9ºs #oT÷r& br& z`øùt÷èã xsù tûøïs÷sã 3
c%x.ur ª!$# #Yqàÿxî $VJÏm§ ÇÎÒÈ
Hai Nabi, Katakanlah kepada
isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin:
"Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka".
yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka
tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ( Al
Ahzab : 59 )
Ayat diatas adalah salah satu sumber cara
umat Islam berpakaian, tentunya ketika sudah mengetahui bahwa sumbernya adalah
Al Qur’an tidak ada kata penolakan bagi umat Islam. Bagaimana kita akan
membicarakan sesuatu yang dilakukan umat Islam tetapi tidak membicarakan
sumbernya. Ibarat kita menyalahkan hakim yang menghukum 5 tahun penjara seorang
penjahat, meskipun sudah sesuai dengan aturan KUHP. Kita maunya lama penjara
sesuai dengan apa yang kita inginkan. Sebenarnya boleh saja beropini berbeda,
tetapi setiap opini akan ada sumber valid yang mematahkannya jika salah.
Sekarang saya mencoba menjawab dari
argumen diatas tadi.
Islam dan Arab adalah dua hal yang
berbeda. Meskipun islam bermula dari jazirah arab, tidak menjadikan semuanya
harus dikaitkan dengan negara tersebut. Karena Islam diturunkan untuk seluruh
umat manusia, bukan untuk umat Arab. Maka dari itu tidak bisa kita menjadikan
semua yang ada di Arab adalah Islam. Kalau memang itu berbeda dengan apa yang
diajarkan oleh Al Quran dan Hadist, berarti apa yang dilakukan orang Arab itu
bukan bagian dari Islam. Seperti yang dijelaskan diatas, umat Islam mengikuti
apa yang ada di Al Qur’an dan Hadis bukan mengikuti orang Arab. Kalau memang
sama, itu berarti kebetulan belaka.
Ada tiga konsep islam dalam menghadapi
sebuah budaya. Budaya yang tidak menyalahi Al Qur’an dan hadis masih bisa diteruskan.
Terkadang juga akan ada sedikit perubahan jika budaya itu melanggar aturan
agama. Terakhir tentunya islam menolak budaya yang benar-benar sudah menyalahi
aturan agama. Budaya disini tidak hanya yang ada di Arab saja, tetapi juga yang
ada disemua tempat di dunia.
Tidak ada yang salah dari pernyataann
bahwa pakaian tidak bisa menggambarkan tingkat keimanan seseorang. Hal itu
semata-mata karena keterbatasan manusia, yang bisa menilai keimanan hanyalah
Tuhan saja. Perlu menjadi catatan adalah berpakaian sesuai dengan tuntunan
adalah sebagai bentuk ketaatan pada ajaran agama. Sebagai orang islam ketika
sudah diperintahkan sesuatu, tidak ada jawaba selaian “Kami dengar dan kami
taat”. Tidak ada yang tahu amalan apa yang akan membuat kita masuk surga. Dengan
melihat hal ini saja, seharusnya tidak perlu menjadi perdebatan bagi orang yang
ingin menjalakan agamanya. Undang-undang menjamin kebebasan untuk menjalankan
aturan agama.
Semua orang memang mempunyai dosanya
masing-masing. Tidak ada yang sempurna dalam diri manusia. Tetapi hal itu tidak
menjadikan gugurnya tanggungjawab untuk saling mengingatkan. Sebagai orang
islam meskipun baru paham satu ayat saja, maka sudah ada kewajiban untuk
menyampaikan itu kepada orang lain. Bayangkan apa yang akan terjadi jika
seluruh umat manusia itu menunggu menjadi baik untuk mengingatkan orang lain.
Perlu menjadi catatan adalah mengingatkan berbeda dengan menghakimi.
Komentar
Posting Komentar