Sebagai anak kecil yang menonton lewat layar kaca,
atmosfer Gelora Bung Karno selalu teringat hingga sekarang. Lautan manusia berwarna merah, pernak-pernik unik yang dipakai oleh suporter, hingga koreo gelombang yang dilakukan penonton yang datag. Terlebih saat
menyanyikan Indonesia Raya, saya selalu tidak ingin kehilangan momen ini. Saya
lebih memilih kehilangan beberapa menit pertandingan daripada kehilangan saat
Indonesia Raya berkumandang.
Permainan timnas cukup menyenangkan untuk dilihat.
Menyenangkan melihat Okto Maniani bermain disayap. Ketajaman Gonzales waktu itu
sangat membekas hingga sekarang, dua golnya kegawang Filiphina disemifinal
tentunya yang paling diingat. Goyangan Irfan Bachdim setelah menceta gol juga
salah satu yang paling ikonik. Bachdim yang menjadi idola baru timnas
Indonesia, bahkan waktu itu juga banyak yang mengatakan banyak fans timnas
khususnya yang perempuan menggandrungi wajah tampannya.
Laga final seolah menjadi puncak dari laga-laga
sebelumnya. Tidak bisa dipungkiri, hasil selama penyisihan grup sampai
semifinal membuat harapan saya sebagai anak kecil memuncak. Sudah yakin saat
akan itu akan juara waktu itu. Harapan sebagai anak kecil waktu itu berubah di
laga pertama final di Bukit Jalil. Tidak menyangka bakal kalah 3-0 waktu itu,
ditambah drama laser yang membuat semakin tegang saja menonton waktu itu.
Harapan buat juara sudah benar-benar hilang, waktu melihat Safee Sale mencetak
gol dan Indonesia gagal penalti. Hampir menangis waktu itu, tapi apa boleh buat,
kita belum bisa juara untuk edisi 2010.
Meskipun hingga saat ini saya belum pernah melihat timnas di stadion, saya tidak pernah melewatkan momen untuk menonton timnas lewat layar kaca. Saya dan seluruh rakyat Indonesia tentunya masih menunggu momen timnas juara. sebuah momen yang saya yakin akan menjadi hal paling mengahrukan selama mendukung timnas. Ada seorang pendukung timnas pernah punya harapan ingin setidaknya sebelum ia mati bisa melihat setidaknya sekali timnas mengangkat piala.

Komentar
Posting Komentar