Abdul Muthalib adalah salah satu dari pemuka Kaum
Quraisy, dikarenakan baru memiliki seorang anak dia pernah bernadzar jika dia
dikarunai sepuluh orang anak maka salah satu diantaranya akan disembelih. Akhirnya
dia memiliki sepuluh orang anak, untuk melanunaika nadzarnya dia mengundi nama
anaknya yang akan disembelih. Abdullah-lah nama anak yang selalu keluar saat
diundi.
Keluarga Abdul Muthalib menentang keputusannya untuk menyembelih
Abdullah. Mereka takut yang dilakukan Abdul Muthalib akan menjadi kebiasaan
kaumnya. Datanghlah mereka ke peramal untuk memutuskan perihal tersebut. Sang peramal
memerintahakan Abdul Muthalib untuk mengundi Abdullah dengan sepuluh ekor unta.
Jika nama Abdullah yang keluar maka diganti dengan sepuluh ekor unta. Undian berhenti
ketika yang keluar adalah unta. Pada akhirnya terkumpul seratus ekor unta sebagai
ganti Abdullah.
Abdullah pada saat itu sudah menginjak usia duapuluh
empat tahun. Abdul Muthalib lalu melamarkannya dengan seorang wanita Bani
Zuhrah yang bernama Aminah binti Wahab. Pernikahan tersebut mengumpulkan dua
nasab mulia yakni Bani Hasyim dengan Bani Zuhrah.
Sudah menjadi kebiasaan Abdul Muthalib menggilir
anak-anaknya satu per satu untuk pergi berniaga. Saat itu tibalah giliran Abdullah,
padahal ia baru saja menikah. Namun pada saat perjalanan pulang Abdullah jatuh
sakit dan memutuskan tinggal di Yastrib. Mengetahui anaknya tidak ikut
rombongan yang kembali ke Mekkah, dia mengutus Harits, salah satu anaknya, pergi
ke Mekkah. Kembaliya Harits ke Mekkah membawa berita duka, karena Abdullah
telah meningggal dunia.
∞
Fajar menyingsing bertepatan hari
Senin, 12 Rabi’ul Awwal, atau 10 Agustus 570 M, Muhammad Saw lahir bertepatan
dengan tahun Gajah. Aminah mengutus pelayan wanitanya untuk mengabari Abdul
Muthalib. Hatinya tertegun saat pertama kali melihat wajah sang bayi. Dia berkata
“Anakku ini akan melakukan hal yang luar biasa.” Lalu dia menamainya
dengan Ahmad atau Muhammad. Pada saat itu nama Muhammad tidak dikenal, ketika
ditanya alasan memberi nama anak tersebut dia menjawab “Aku ingin di dipuji
Allah di langit, dan dipuji mahluk-Nya di bumi.”
Sudah menjadi kebiasaan pemuka Mekah untuk menggunakan
ibu susu. Ibu-ibu susu itu saling berlomba untuk mendatangi rumah orang-orang
kaya. Namun mereka enggan untuk mendatangi rumah Nabi Muhammad kecil, sebab ia
adalah seorang yatim sehingga tidak akan mendapat upah yang banyak. Lalu ada
seorang wanita Bani Saad yang datang terlambat, dia bernama Halimah binti
Harits. Pada awalnya Halimah tidak mau menerima Muhammad kecil. Tetapi akhirnya
dia menerima Muhammad kecil daripada pulang tanpa hasil, sambil berharap
keberkahan pada keluarganya.
Ketika Halimah menyusui Muhammad tiba-tiba saja dadanya
dipenuhi dengan air susu. Padahal, sebelumnya Halimah tidak memiliki air susu
yang banyak, bahkan untuk anaknya sendiri. Lalu saat suaminya memeras susu unta,
keluarlah air susu dengan deras. Hal tersebut membuat sang suami terherah,
sebab sebelumnya unta yang mereka miliki kurus kering tidak memiliki air susu.
Pada saat usia Muhammad empat tahun terjadilah kejadian
yang menakjubkan. Muhammad kecil saat itu sedang bermain, dia melihat dua lelaki
berpakaian putih membawa bejana emas yang dipenuhi air es. Dua lelaki itu lalu
membawanya dan membelah dadanya, hatinya dikeluarkan untuk membuang noda hitam
darinya, lalu mereka bersihkan dengan air es sampai bersih. Halimah yang
mendengar cerita dari sang anak sangat khawatir dan mengembalikan Muhammad kepada
ibunya dan berakhirlah kisah pengasuhan Halimah atas Muhammad. Kaum Yahudi yang
mendengar cerita tersebut menyerukan untuk membunuh Muhammad.
∞
Saat Muhammad berusia enam tahun, dia diajak sang ibu
untuk mengunjungi paman-pamannya di Madinah. Pada saat perjalanan Aminah wafat.
Ibunya meninggalkanya dengan pengasuhnya, Ummu Aiman. Muhammad kecil kini
menjadi yatim piatu. Dia sekarang hanya punya sang kakek yang sudah lanjut
usia, Abdul Muthalib dan pengasuhnya, Ummu Aiman. Dia sekarang dirawat oleh
Abdul Muthalib.
Ketika menginjak usia depalan tahun, Muhammad ditinggal
kakeknya untuk selama-lamanya. Sebelum meninggal Abdul Muthalib berpesan kepada
anakya Abu Thalib agar mengasuh Muhammad sepeninggalnya. Abu Thalib bukannlah anaknya
yang termasuk kaya, tetapi dialah yang paling penyayang dan lembut hatinya.
Menginjak usia dua belas tahun Muhammad pergi ke Syam
bersama pamannya untuk berniaga. Sampai di Bushra, mereka diundang jamuan makan
oleh seorang rahib. Tatkala melihat Muhammad sang rahib meyakini bahwa dia
memiliki tanda-tanda kenabian yang tertulis di Taurat dan Injil. Rahib itu
meminta Abu Thalib untuk membawa pulang Muhammad, sebab jika orang Yahudi
mengetahuinya Muhammad akan celaka.
Muhammad muda menyadari beban berat yang dipikul sang
paman. Muhammad membantu sang paman dengan mengembalakan kambing milik penduduk
Mekah dengan imbalan beberapa qirath.
Menapaki usia dua puluh lima tahun seorang janda kaya
meminta beliau untuk memimpin perniagannya ke negeri Syam. berangkatlah beliau
dengan seorang pelayan bernama Maisarah. Perdagangan itu mendapatkan untung
yang sangat besar. Sekembainya dari Syam Maisarah menceritakan tentang
kelembutan hati Muhammad muda dan kesempurnaan ahlaknya kepada Khadijah. Kisah tersebut
menjalar kepada hati Khadijah dan memgubah rasa kagum menjadi rasa cinta.
Khadijah lalu bercerita kedapa sahabatnya, Nafisah binti
Muziah. Melalui Nafisah niat Kahdijah tersampaikan pada Muhammad. Muhammad dan
Khadijah akhirnya menikah. Mereka hidup tentram dan tenang. Pernikahan mereka
dikaruniai dua anak laki-laki dan empat perempuan, mereka adalah : Qasim,
Abdullah (dijuluki Ath-Thayib dan Ath-Tahir), Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum,
dan Fatimah. Anak-anak lelaki beliau meninggal saat masih kecil.
∞
Setiap Bulan Ramadhan Muhammad muda terbiasa untuk menyepi
di sebuah gua di gunung Mekah yang disebut Gua Hira. Jarak gua itu sekitar dua
jam dari Mekah dengan berjalan kaki. Berhari-hari di gua itu, beliau
mendapatkan kenikmatan yang tidak pernah dialami. Disana tidak ada pertiakaian,
persaingan, dan tidak ada ketergesaan dalam alur kehidupan.
6 Agustus 610 M sesuai rutinitasnya di bulan Ramadhan
beliau pergi ke Gua Hira, saat itu usianya empat puluh tahun. Disaat bersiap
untuk tidur, tiba-tiba datang sesosok sesuatu dari sutra yang di dalamnya
terdapat sebuah kitab. Kemudian dia berkata “ Bacalah!” Beliau menjawab,
“Aku tidak bisa membaca.” Dia lalu memeluk Nabi Muhammad sangat erat. Lalu
dia melepaskannya dan berkata “Bacalah!” Beliau menjawab, “Aku tidak bisa membaca.”
Lalu dia merangkul Nabi Muhammad untuk kedua kalinya hingga beliau merasa
kepayahan. Kemudian dia melepaskan dan berkata “Bacalah!” Beliau menjawab,
“Aku tidak bisa membaca.” Maka, dia merangkul Nabi Muhammad untuk ketiga
kalinya dan berkata lagi “Bacalah!” Nabi Muhammad menjawab “Apa yang
harus aku baca?”. Lalu dia membacakan Surat Al Alaq ayat 1-5.
“Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia
dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar
(manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Nabi Muhammad hatinya terus bergetar karena rasa takut
hingga berhadapan dengan Khadijah. Lalu Khadijah membawa Nabi Muhammad kepada Waraqah
bin Naufal. Diceritakanlah semua yang dialami oleh beliau kepada Waraqah. Dia menjelaskan
bahwa Muhammad telah diangkat menjadi nabi terkahi dan yang datang kepadanya
adalah Malaikat Jibril yang dahulu juga pernah datang kepda Nabi Musa. Waraqah
berjanji akan menolongnya saat kaumnya nanti mengusirnya, mendustainya,
menyakitinya, hingga memeranginya.
Selama beberapa waktu Nabi Muhammad tidak pernah melihat
lagi Malaikat Jibril. Terputuslah wahyu selama tiga tahun. Periode tersebut
adalah masa-masa sulit bagi Baginda Muhammad. Kondisi ini membuatnya gelisah
dan ingin bertemu lagi dengan Jibril. Rasa takut berubah menjadi rasa rindu.
Nabi Muhammad akhirnya bertemu lagi dengan Jibril. Pertemuan
kedua ini tetap membuat terguncang Nabi Muhammad. Lalu turunlah wahyu yang
kedua Surat Al Mudatsir ayat 11-7.
“Wahai
orang yang berkemul (berselimut)!, bangunlah, lalu berilah peringatan! dan
agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan
tinggalkanlah segala (perbuatan) yang keji, dan janganlah engkau (Muhammad)
memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan
karena Tuhanmu, bersabarlah.”
Khadijah
saat itu meminta Nabi Muhammad untuk beristirahat. Namun, beliau menjawab “ Hentikan
hai khadija masa tidur dan beristirahat, sebab jibril telah memerintahkanku
untuk memperingatkan manusia dan menyeru mereka pada jalan Allah dan menyembah-Nya.
Maka siapakah yang harus aku seru, dan siapakah yang akan menyambut seruanku?”
Dimulailah
periode panjang dakwah Nabi Muhammad. Bukan persoalan mudah mengubah kebiasan lama.
Terlebih yang dibawa Nabi Muhammada adalah kebaikan yang sangat berbeda dengan
yang ada saat itu. Mereka akan dilarang yang menjadi kesenangan hidup. Perjalanan
panjang dakwah yang jalannya tidak mudah sudah dimulai. Allah yang akan
melindungi Nabi-Nya.
∞
Mulai saat itulah beliau telah diangkat oleh Allah Swt
menjadi Nabi terkahir. Nabi Muhammad telah dipersiapkan oleh Allah sejak masih
dalam kandungan. Kesuciannya selalu dijaga, disaat kaumnya masih berada dalam
kebodohan, beliau tidak ikut dalam arus yang ada. Beliau memilih menyendiri dan
menjauhi kebiasaan kaumnya yang jauh dari kebenaran. Disaat menyendiri itulah
beliau merenungi kaumnya hingga Allah Swt memberinya petunjuk untuk menyadarkan
kaumnya.
Nabi Muhammad telah menjadi berkah bagi seluruh umat
manusia sejak kecil bahkan hingga sekarang. Orang-orang yang ada disekitarnya
akan selalu merasa nyaman dengan perangainya yang sangat indah. Manusia yang
sekarang hidup jauh setelah masa hidupnya tetap mencintainya, tentu yang
sezaman dengannya akan lebih mencintainya. Kejujurannya dan kelembutan bicaranya telah menjadikan beliau
mudah dicintai bahkan sebelum diangkat menjadi nabi. Sayangnya banyak dari
kaumnya yang lebih meninggikan ego dunia sehingga tertutupilah kebenaran yang beliau
bawa.
Perjalanan hidup beliau sebelum diangkat menjadi nabi membentuk
kepribadian yang tangguh dan mandiri. Ditinggal ayah sebelum lahir, ditinggal
ibu dan kakek tercinta saat kecil. Disaat hidup bersama sang paman beliau tidak
mau memberatkannya. Secara mandiri pada saat usia muda beliau membantu
perekonomian sang paman dengan bekerja. Didikan itulah yang telah membuat
beliau siap menghadapi tantangan setelah diangkat menjadi nabi.
Sumber : Buku Muhammad Saw Sang Yatim karangan Prof. Dr. Muhammad Sameh Said
Komentar
Posting Komentar